Kamis, 12 Februari 2009

Apakah Bulutangkis Indonesia Masih Bisa Menjadi yang Terbaik

Akhir-akhir ini, prestasi bulutangkis Indonesia tidak secemerlang pada zamannya Tan Joe Hoek, Rudy Hartono, Liem Swie King, Ivanna Lie, sampai Alan Budi Kusuma dan Susi Susanti. Meskipun, masih ada atlet kita yang prestasinya bagus, seperti ganda putra Markis Kido/Hendra Setiawan dan ganda campuran Nova Widhianto/Lilyana Natsir. Saat ini, bisa dibilang China-lah yang paling menguasai dunia bulutangkis. Banyak pemain China yang menghuni peringkat papan atas dunia. Inilah bukti bahwa mereka sekarang yang terbaik untuk bulutangkis. Beberapa negara yang juga hebat bulutangkisnya adalah Korea Selatan, Jepang, Malaysia, Denmark, dan Inggris.
Prestasi yang mulai merosot ini jelas ada buktinya. Dulu, kekuatan semua cabang bulutangkis Indonesia bisa dibilang merata. Sekarang, mungkin tinggal ganda putra dan ganda campuran yang masih bertahan. Sisanya, apalagi tunggal putri, sudah jauh menurun. Pertanyaannya, apakah Indonesia masih bisa menjadi yang terbaik di dunia bulutangkis? Jika ditanya bisa atau tidaknya, pasti bisa. Yang menjadi masalah, seringkali kita tidak mau berusaha untuk mewujudkannya. Mengapa saya katakan pasti bisa? Sebab segala sesuatu yang ada di dunia ini membentuk suatu siklus yang selalu berputar. Namun, harus diimbangi juga dengan usaha dan pelengkap lainnya. Misalnya, dalam kehidupan kita, manusia, hewan, tumbuhan, dan lingkungan saling berikatan. Jika salah satunya tidak ada atau hilang, maka hal itu akan merusak yang lainnya secara perlahan-lahan. Jadi, segala sesuatu itu berputar dan saling berikatan.
Kalau kita mau berhasil, tidak boleh ada kalimat "Saya tidak bisa" dalam pikiran kita. Kita harus yakin bahwa kita bisa. Setelah itu, baru kita lakukan usaha-usaha untuk mewujudkan keinginan kita itu. Yah, berhasil atau tidaknya itu tergantung dari keseriusan kita menekuninya dan bakat yang kita miliki. Yang paling penting, tentu saja berdoa kepada Tuhan. Begitu pula untuk bulutangkis Indonesia. Jika sudah dilakukan, kemungkinan besar akan berhasil. Jadi, jangan pernah berhenti untuk berusaha dan mencoba!

Senin, 02 Februari 2009

Mundurnya Taufik yang Fenomenal

Seperti yang telah kita ketahui, Taufik Hidayat telah mengundurkan diri dari Pelatnas (Pemusatan Latihan Nasional) Bulutangkis Cipayung. Alasannya, Taufik mau menjadi pemain profesional yang mandiri, yang mengurus segala keperluannya dalam bertanding sendiri. Selain itu, Taufik juga menginginkan supaya terjadi regenerasi pemain, khususnya di nomor tunggal putra. Sedangkan kabar yang memberitakan bahwa Taufik mundur karena tidak dipanggilnya Mulyo Handoyo, pelatihnya selama ini ke Pelatnas, diakuinya sebagai alasan yang kesekian. "Saya ingin memberi kesempatan kepada pemain junior. Mudah-mudahan dengan saya keluar dari PBSI, PBSI bisa lebih maju dan atlet bisa berprestasi terutama di nomor tunggal," cetus Taufik. Taufik yang sudah sejak tahun 1996 berada di Pelatnas mengaku bahwa dia mundur dari Pelatnas dengan berat hati.
Taufik adalah seorang pemain yang bisa dibilang paling fenomenal dan sensasional di Indonesia saat ini. Mengapa fenomenal? Dalam usia yang masih sangat muda, Taufik sudah berhasil memperoleh prestasi yang sangat gemilang dan mengharumkan nama bangsa. Saya mengatakan Taufik sensasional karena dia bukan hanya sebagai atlet, namun juga sebagai artis. Dia sering masuk tayangan gosip, dan salah satu gosip yang masih saya ingat dari Taufik adalah Taufik dikabarkan memiliki anak dari wanita yang bukan istrinya. Ya, mungkin kabar itu hanya "bumbu-bumbu" pada karirnya. Taufik juga adalah pemain Indonesia yang paling populer sampai ke seluruh dunia saat ini.
Sebagai pemain, akhir-akhir ini Taufik memang jarang berprestasi gemilang seperti pada masa jayanya. Taufik terakhir kali juara di Macau Badminton Championship, mengalahkan Lee Chong Wei yang saat itu sedang cedera. Namun, jika melihat masa-masa kejayaan Taufik sebagai pemain, tentu bukanlah hal yang baik jika kita menghina Taufik dengan makin buruknya penampilan dia di kejuaraan internasional. Taufik berperan dalam mempertahankan Piala Thomas di Indonesia sampai tahun 2002, mempertahankan tradisi medali emas Indonesia di Olimpiade sejak 1992 dengan meraih emas satu-satunya bagi Indonesia di Olimpiade Athena 2004, menjadi juara dunia 2005, Asian Games, dan sejumlah prestasi lainnya. Mungkin masa keemasannya sebagai atlet sudah hampir habis. Seorang atlet tidak mungkin selalu berada di puncak kejayaan. Begitu juga Taufik. Meskipun sudah jarang berprestasi, Taufik adalah salah satu pahlawan bulutangkis Indonesia. Taufik juga menginginkan agar orang mengingat dia dengan prestasinya, bukan kegagalannya. Karena itu, dia mundur dari Pelatnas. Sekali lagi, Taufik mencoba hanya mengingat hal-hal yang baik dari Cipayung. Begitu pun ia minta semua orang mengingat hal yang baik tentang dirinya. "Jangan melulu dilihat konflik saya dengan banyak pihak. Tetapi ingatlah saya karena prestasi saya di olimpiade, kejuaraan dunia, dan yang lainnya. Karena itulah saya ingin mundur selagi saya masih di puncak. Saya tidak ingin dikasihani atau dilupakan orang."
Berikut sedikit kenangan Taufik di Pelatnas. Taufik mengenang, pelatnas Cipayung tidak lagi bernuansa sekolah, tetapi lebih suasana keluarga yang guyub. "Yang paling saya ingat tentunya bagaimana saya
dikerjain para senior saya," kata Taufik.
Cerita Taufik dikerjain seniornya memang bukan hal baru. Taufik muda selalu dihardik dan diledek para seniornya setiap kali "menyentuh" mobil-mobil milik para senior tersebut. "Heh lu enggak bisa beli tuh barang," kata para senior. Potongan kisah ini menimbulkan dendam dan semangat pada Taufik muda. Setelah berprestasi, Taufik membuktikan dirinya dengan membawa mobil jenis Toyota Alphard ke pelatnas Cipayung. "Bagi saya itu menjadi kenangan yang indah," kata Taufik. Meski begitu, ia juga memiliki beberapa kenangan pahit yang menurut dia juga dirasakan banyak pemain hingga sekarang. "Saya kira pengurus sekarang yang baru terpilih harus berubah dibandingkan yang lama. Sekarang komunikasi antara pengurus dan pemain harus lebih terbuka," katanya. Menurut Taufik, apa yang diinginkan dan dipahami oleh pemain sebenarnya sangat jelas. "Pemain tahunya adalah berlatih, bertanding, dan kemudian dievaluasi. Kalau gagal, ia harus siap untuk kehilangan haknya. Namun kalau berhasil, ia boleh menanyakan haknya," katanya. Hal-hal seperti inilah yang menurut Taufik tidak dilakukan oleh para pengurus dan sudah berlangsung bertahun-tahun di Cipayung.
Setuju tidak setuju, suka tidak suka, Taufik tetaplah salah satu pahlawan bangsa yang harus kita hargai. Ingatlah prestasinya yang sangat mengharumkan nama bangsa itu. Kegagalannya hanyalah pelengkap dari keberhasilannya. Karena tanpa kegagalan, mana mungkin ada orang yang mau berusaha lagi? Mari, kita dukung keputusan Taufik ini, dan kita dukung juga kiprahnya setelah keluar dari Pelatnas. Kita tunggu prestasinya. Siapa tahu, bisa jadi juara All England Maret nanti.
Maju terus, Taufik!
Sumber :
Okezone
Kompas

Sabtu, 24 Januari 2009

Bagaimana Nasib Bulutangkis Indonesia?

Harus diakui, bulutangkis adalah satu-satunya cabang olahraga yang bisa membanggakan Indonesia di pentas dunia berkali-kali, dari dulu sampai sekarang. Puncaknya, medali emas pertama Indonesia di kejuaraan sebesar Olimpiade didapatkan melalui cabang olahraga ini (1992). Betapa kita harus berbangga dengan para atlet bulutangkis yang kita miliki, baik yang dulu, maupun yang sekarang. Namun pada kenyataannya, orang yang menyukai olahraga bulutangkis di Indonesia tidak lebih banyak daripada yang menggemari olahraga semacam sepak bola atau bola basket. Sungguh malang nasib bulutangkis di Indonesia. Jika prestasi bulutangkis dibandingkan dengan sepak bola atau basket, tentu sangat jauh bedanya. Contohnya, bulutangkis meraih medali emas di Olimpiade 2008. Sedangkan sepak bola atau basket? Main saja tidak. Di tingkat internasional sendiri, bulutangkis juga kalah pamornya dari tenis.
Belakangan, banyak pemain Indonesia mengikuti turnamen dengan biaya sendiri. Namun, setelah ada pemanggilan pemain ke pelatnas, pemain yang terpanggil itu mungkin dibiayai PBSI dan sponsor lain, seperti PLN. Sedangkan yang belum dipanggil, harus berangkat dengan biaya sendiri. Contoh akibatnya, ganda putri Vita Marissa/Lilyana Natsir tidak mengikuti turnamen Yonex Korea Super Series 2009. Menurut kabar yang saya dengar, itu karena Vita tidak mempunyai cukup biaya. Nah, bagaimana mau berkembang, kalau mengikuti turnamen saja tidak? Apalagi dengan alasan yang cukup memiriskan, biaya. Yang menjadi pekerjaan pemain itu hanya berlatih dan bermain. Apapun hasilnya, yang jelas pemain itu telah berusaha semampu mereka. Tapi sekarang, pemain memiliki pekerjaan tambahan, yaitu mencari sponsor. Itu seharusnya menjadi tugas PBSI sebagai organisasi yang menaungi olahraga bulutangkis ini. Mungkin ini dampak dari krisis global yang sedang melanda dunia sekarang ini.
Tahun ini, Vision1 Sports menayangkan semua kejuaraan super series babak semifinal dan final (kecuali Indonesia SS yang kemungkinan besar ditayangkan TV swasta), kejuaraan Asia, Kejuaraan Dunia dan beberapa GP(Grand Prix). Siaran ini selalu di-relay secara langsung ke beberapa TV lokal yang kemungkinan besar merupakan anak perusahaan MNC (Indovision juga anak perusahaan MNC), seperti Deli TV Medan, IMTV Bandung, Pro TV Semarang dan SUN TV Makassar. Ini merupakan sebuah langkah yang bagus untuk lebih mempopulerkan bulutangkis di Indonesia. Sekaligus, menarik minat sponsor untuk PBSI. Dengan begini, pemain tidak perlu lagi repot mencari sponsor sendiri, meskipun hal itu juga tidak dilarang. Ini akan membuat pemain lebih berkonsentrasi dalam bermain, dan pada akhirnya bisa meraih hasil maksimal, yang akan membanggakan Indonesia di pentas dunia. Jadi, saya harap TV Indonesia bisa terus menayangkan kejuaraan bulutangkis, bukan hanya tahun ini saja. Kalau bisa, jangan TV berbayar, tapi TV swasta, supaya semua masyarakat bisa menyaksikannya. Saya sendiri bisa menonton melalui SUN TV.
Semoga ke depannya bulutangkis Indonesia makin berjaya, apalagi menghadapi kejuaraan All England yang dimulai 3 Maret nanti, Piala Sudirman pada bulan Mei dan Kejuaraan Dunia pada bulan Agustus. Salam bulutangkis.

Selasa, 20 Januari 2009

Yonex Korea Super Series 2009

Denmark berhasil berjaya di turnamen ini dengan merebut 3 gelar. Tuan rumah Korea harus puas hanya berhasil meraih 1 gelar saja, sama dengan China-Taipei.
Ganda Campuran : Sukses Lee/Lee
Setelah digagalkan pasangan Indonesia, Nova Widhianto/Lilyana Natsir di Malaysia, ganda Korsel ini sukses merebut gelar juara di kandang sendiri. Saya rasa, gelar ini kurang berarti karena lawan mereka sama sekali tidak sepadan (sekali lagi, ini menurut saya).
Tunggal Putra : Akhir Penantian Gade
Setelah 2 kali dikalahkan Lee Chong Wei di 2 super series sebelumnya, Peter Gade akhirnya sukses mengalahkan Chong Wei. Siklusnya menarik. Pada Final SS, Chong Wei menang dalam 2 set. Di Malaysia SS, Chong Wei menang dengan 3 set. Sedangkan di Korea, Gade balik menang dengan 3 set. Akankah di pertemuan selanjutnya Gade menang dengan 2 set? Kita tunggu saja!
Tunggal Putri : Sukses Kedua Tine Tahun Ini
Setelah sukses di Malaysia, Tine kembali sukses di Korea. Ini sekaligus menjadi ancaman bagi para pemain China untuk berhati-hati terhadap Tine. Pertandingan berlangsung ketat dan terjadi kejar-mengejar angka yang cukup seru.
Ganda Putri : Kegagalan Tuan Rumah
Hasil ini cukup mengejutkan, karena sejak awal set pertama sampai menjelang akhir, duet Lee dari Korsel terus memimpin. Namun, setelah gagal di set pertama, permainan mereka semakin kacau dan dikontrol oleh pasangan Taiwan. Akhirnya, mereka harus kalah, dan cukup telak pada set kedua.
Ganda Putra : Mengikuti Jejak Ganda Putri
Sama dengan ganda putri, ganda putra Korsel Lee Yong Dae/Jung Jae Sung tidak berkutik melawan pasangan Denmark, Mathias Boe/Carsten Morgensen. Di set 1, Boe/Morgensen langsung menekan dengan smes-smes kerasnya, dan pertahanan yang cukup apik. Di set 2, pertandingan berlangsung lebih ketat, namun setelah terjadi deuce, pasangan Denmark berhak atas gelar juara.

Senin, 12 Januari 2009

Proton Malaysia Super Series 2009

Menempatkan 2 wakil di final, ganda campuran dan ganda putra, Indonesia berhasil membawa pulang 1 gelar dari nomor ganda campuran. Sedangkan Malaysia memperoleh 1 gelar, Denmark 1 gelar, dan Korea Selatan 2 gelar.
Ganda Campuran : Nova/Lilyana Sukses "Balas Dendam"
Ya, Nova Widianto/Lilyana Natsir akhirnya sukses mengalahkan pasangan Korsel, Lee Yong Dae/Lee Hyo Jung pada pertemuan mereka yang keempat kalinya. Di set pertama, pertandingan hanya berlangsung ketat di awalnya saja, sehingga Nova/Lily menang 21-14. Di set kedua terjadi kejar mengejar angka. Sempat memimpin di poin awal, Nova/Lily tertinggal sampai pertengahan set. Namun, setelah itu Nova/Lily perlahan mengejar dan berbalik unggul. Pada kedudukan 20-17, pengembalian Nova yang membentur net dan pukulan Lily yang keluar membuat ganda Korsel mengejar 20-19. Namun, servis panjang pemain Korsel yang dikembalikan tanggung oleh Lily, kemudian dismes Yong Dae, diangkat Lily ke depan net, gagal dikembalikan Hyo Jung dan membentur net, sehingga Nova/Lily menang 21-14, 21-19.
Menurut saya, permainan Nova.Lily jauh lebih bagus dari musim lalu. Mereka sudah bisa mengontrol emosi, smes Nova makin terarah, pertahanan dan penyerangan Lily makin bagus, apalagi serangan di depan net, dan penempatan bola mereka nyaris sempurna. Semoga dengan kemenangan ini mereka bisa memperoleh hasil yang jauh lebih bagus tahun ini.
Tunggal Putri : Tine Sukses Pertahankan Gelar
Di set pertama, Tine lebih banyak memimpin melalui smes kerasnya dan kesalahan dari Zhou Mi. Di set kedua, terjadi hal yang hampir sama, namun yang melakukan itu adalah Zhou Mi. DI set ketiga, Zhou Mi memimpin pada awal pertandingan. Namun, setelah jeda, Tine menjadi terus meimpin dan menang 21-17, 15-21, 21-16.
Tunggal Putra : Datuk Lee Chong Wei Selamatkan Malaysia
Sebagai satu-satunya wakil Malaysia sejak semifinal, Chong Wei sukses mengalahkan Park Sung Hwan di final. Pertandingan ini memang terlihat berat sebelah, di mana Chong Wei lebih menguasai jalannya pertandingan, meskipun Park sempat unggul di set kedua. Chong Wei pun menang 21-14, 21-13.
Ganda Putri : China Gagal Raih Gelar
Tampil tanpa kekuatan penuh, China bisa meloloskan pasangan Yang Wei/Zhang Jie Wen ke final. Pasangan China ini terus tertekan sejak awal pertandingan oleh pasangan Korsel, Lee Hyo Jung/Lee Kyung Won. Dari rekor pertemuan, memang pasangan Korsel lebih unggul, bahkan unggul jauh. Jadi, pantas saja mereka menang 21-15, 21-12.
Ganda Putra : Terhentinya Pembuat Kejutan
Pasangan Indonesia, Alvent Yulianto Chandra/Hendra Aprida Gunawan gagal meraih gelar juara, meskipun pada set 1 mengungguli ganda Korsel, Lee Yong Dae/Jung Jae Sung. Pada set pertama, Alvent/Hendra banyak melakukan smes keras dan kerja sama yang luar biasa bagi pasangan baru. Namun pada set selanjutnya, giliran pasangan Korsel yang banyak melakukan smes, dan Alvent/Hendra kurang bisa menahannya, meskipun beberapa kali mereka bisa menahan smes tajam dan keras. Alvent/Hendra pun harus puas sebagai runner-up dengan kekalahan 3 set, 21-18, 14-21, 14-21.
Selamat buat Nova/Lilyana, dan sukses untuk Tim Bulutangkis Indonesia!


Jumat, 26 Desember 2008

Natal : Masihkah untuk Tuhan?

Ribuan tahun yang lalu, telah lahir Seorang Juruselamat bagi kita. Anak Tunggal dari Bapa telah diberikan-Nya bagi kita. Dia lahir bagi untuk menebus dosa-dosa kita, orang berdosa. Selama hidup, Dia banyak melakukan mujizat. Perbuatan-Nya tidak ada yang bercela. Namun, kita yang seharusnya menderita karena dosa-dosa kita telah digantikan oleh-Nya.
Pada tanggal 25 Desember, umat Kristen selalu merayakan Natal setiap tahun. Sayangnya, dari tahun ke tahun, fokus perayaan Natal mulai beralih. Dari yang seharusnya untuk memperingati kelahiran Yesus Kristus, berubah menjadi seperti pesta, di mana ada Santa Clause dkk di dalamnya. Memang tidak semua orang seperti itu. Tapi tidak sedikit juga orang yang melakukan perayaan seperti itu. Perayaan itu boleh. Tapi, kita harus lebih fokus kepada Tuhan daripada perayaannya.

Merayakan Natal berarti merayakan ulang tahunnya Tuhan. Tapi, banyak orang justru saling memberikan kado kepada keluarganya atau kenalannya, bukan untuk Tuhan. Mungkin itu cuma untuk mempererat hubungan. Bukan nggak boleh. Cuma, yang harusnya lebih diutamakan itu Tuhan. Dia lahir ke dunia, itulah kado yang paling istimewa yang pernah ada. Meskipun kita nggak bisa memberikan hadiah seistimewa itu, tapi, setidaknya kita bisa memberikan hadiah terbaik yang paling tulus yang kita miliki untuk Tuhan.
Ada lagu yang berjudul "Santa Clause is Coming to Town". Isi lagunya adalah orang disuruh untuk bersiap-siap untuk menyambut kedatangan Santa Clause. Padahal, yang datang ke dunia itu Yesus. Jadi, harusnya "Jesus Christ is Coming to Town". Mungkin memakai Santa Clause untuk menarik perhatian anak-anak aja, sih. Santa Clause juga nggak buruk-buruk amat. Anak yang berbuat baik akan diberikan hadiah, yang nakal nggak. Tapi, kalo berbuat baik itu jangan karena ada maunya, dan jangan cuma di hari Natal aja.
Yesus lahir, mati dan bangkit untuk kita semua. Dia rela disiksa dan disalibkan untuk menebus dosa-dosa kita. Betapa berharganya kelahiran Yesus bagi kita. Dia menyelamatkan kita semua dari kematian kekal. Jadi, di hari Natal ini(kemarin, sih), kita harus lebih mencintai Tuhan dan merubah sikap-sikap hidup kita yang tidak berkenan kepada-Nya.
Selamat Hari Natal 2008, semoga kita selalu berada dalam kasih dan perlindungan Yesus. Dan : Selamat Ulang Tahun, Yesus!

Minggu, 21 Desember 2008

World Badminton Final Masters Super Series

Meskipun menempatkan 2 wakil di final, Indonesia gagal meraih gelar juara di turnamen ini. Berbeda dengan Malaysia, yang bisa memaksimalkan kesempatan, dan meraih 3 gelar. Oke, kita mulai dari partai pertama.
Partai pertama adalah ganda campuran, yang mempertemukan pasangan Indonesia, Nova Widianto/Lilyana Natsir, dengan pasangan Denmark, Thomas Laybourn/Kamilla Rytter Juhl. Pada set pertama, pertandingan berlangsung ketat sejak awal pertandingan. Meski unggul di poin-poin kritis, namun Nova/Lily masih terkejar, dan pasangan Denmark memenangkan set ini. Di set kedua, pertandingan tetap berlangsung ketat, meskipun tidak seketat game pertama. Kali ini, Nova/Lily berhasil memenangkan set kedua, dan memaksa dilaksanakannya rubber game. Seperti set pertama dan kedua, kejar-mengejar angka juga terjadi. Namun, yang paling menyesakkan, ketika Nova/Lily unggul 20-17, mereka malah menjadi terburu-buru, dan membiarkan Thomas/Kamilla merebut 5 angka berturut-turut. Pertandingan akhirnya dimenangkan oleh Laybourn/Juhl dengan skor 21-17, 16-21, 22-20.
Partai berikutnya, tunggal putri, mempertemukan 2 pemain Hong Kong, yaitu Wang Chen dan Zhou Mi. Di awal set pertama, Wang Chen mendominasi pertandingan, sehingga sempat unggul dengan selisih angka yang cukup besar. Namun, tak menunggu beberapa lama, Zhou Mi langsung mulai bisa menampilkan performa yang baik, sedangkan penampilan Wang Chen menurun. Zhou Mi pun memenangkan set pembuka ini. Di set kedua, Zhou Mi bisa mendikte permainan sejak awal. Wang Chen sempat mengejar pada pertengahan set kedua, namun Zhou Mi bisa kembali unggul, dan akhirnya memenangkan pertandingan dengan skor 21-14, 21-18.
Pertandingan tunggal putra, merupakan awal pesta tuan rumah. Datuk Lee Chong Wei berhadapan dengan Peter Hoeg Gade. Lee sangat mendominasi set pertama dengan permainan gemilang, dan unggul sangat jauh, puncaknya ketika skor 12-0. Setelah itu, Gade mulai mendapatkan satu demi satu angka, meskipun Lee juga terus mendapatkan angka. Ketika game poin bagi Lee, Gade terlihat sudah menemukan irama permainan, sehingga bisa menahan Lee 5 angka. Pada set kedua, Gade unggul 2 angka terlebih dahulu. Namun, Lee bisa terus mengejar, dan berbalik unggul. Di pertengahan set, Gade bangkit untuk menipiskan selisih angka, dan bahkan unggul kembali. Namun, keunggulannya tidak bertahan lama. Lee kembali mendominasi pertandingan. Pertandingan akhirnya berakhir dengan skor 21-8, 21-16 untuk kemenangan Lee Chong Wei.
Partai ganda putra tidak berjalan sesuai harapan saya. Pasangan Korea, Lee Yong-Dae/Jung Jae Sung harus kalah dari ganda Malaysia, Koo Kiet Kien/Tan Boon Heong. Koo/Tan menunjukkan permainan yang sangat gemilang di depan para pendukungnya. Pertandingan juga berlangsung ketat. Meskipun di awal set tertinggal, namun di pertengahan set mereka bisa bangkit dan unggul agak jauh. Koo/Tan hampir tidak memberi kesempatan bagi Yong-Dae/Jae Sung untuk melakukan serangan bertubi-tubi. Yong-Dae/Jae Sung juga bermain bagus, namun bisa diantisipasi oleh Koo/Tan. Di set kedua, Koo/Tan unggul pada awal-awal, namun bisa dikejar Yong-Dae/Jae Sung. Namun, Koo/Tan juga bisa mengejar dan berbalik unggul jauh. Koo/Tan juga menunjukkan pertahanan yang sangat rapat. Yang paling berkesan, ketika Koo terjatuh hingga terduduk untuk menangkis smash ganda Korea, dan dalam keadaan terduduk itu dia menangkis smash 3 kali, kemudian pukulan terakhirnya ketika duduk yang tidak terlalu kuat itu masuk. Pertandingan berakhir dengan skor 21-18, 21-14 untuk kemenangan Koo/Tan.
Partai penutup, ganda putri, adalah harapan Indonesia untuk meraih gelar, setelah gagal di ganda campuran. Pertandingan berlangsung ketat sejak awal. Namun, pasangan Malaysia, Chin Eei Hui/Wong Pei Tty, bisa mendominasi pertandingan. Pasangan Indonesia, Vita Marissa/Lilyana, juga sering melakukan kesalahan-kesalahan sendiri. Di set kedua, Vita/Lily kembali tertinggal. Namun, sedikit harapan muncul ketika mereka unggul hingga 5 angka, pada skor 19-14. Kali ini, pasangan Malaysia yang melakukan kesalahan sendiri, sehinggal Vita/Lily bisa unggul 5 angka. Namun, permainan Eei Hui/Pei Tty meningkat. Mereka bangkit dan menyamakan kedudukan. Namun, pada poin 19-19, Vita melakukan sebuah smash tajam yang bermula dari smash Lily yang dikembalikan dengan tanggung oleh ganda Malaysia. Harapan kembali muncul. Namun, Eei Hui/Pei Tty berhasil merebut 3 angka berturut-turut. Pada kedudukan 21-20 untuk Malaysia, ganda Indonesia terlihat tidak memiliki semangat lagi untuk memenangkan pertandingan, dan kalah dengan skor 15-21, 20-22.
Hasil ini memupuskan harapan Indonesia untuk bisa meraih gelar di kejuaraan penutup tahun ini. Sedangkan bagi Malaysia, mereka bisa merebut 3 gelar juara di depan ribuan pendukung mereka.
Meskipun gagal, kita doakan semoga di tahun 2009, para pemain Indonesia bisa meraih lebih banyak gelar lagi. Beberapa yang menjadi keinginan saya untuk dimenangkan Indonesia adalah sebagai berikut. Pertama, All England pada bulan Maret. Meskipun sama-sama super series, hadiahnya sama, poinnya sama, namun kejuaraan ini yang paling prestisius, karena merupakan kejuaraan tertua. Kedua, Piala Sudirman pada bulan Mei. Setelah gagal di Thomas & Uber Cup 2008 di Jakarta, kini saatnya Indonesia merebut kembali Piala Sudirman, yang baru didapatkan satu kali, di Jakarta, puluhan tahun lalu(kalo gak salah tahun 1979). 4 tahun terakhir Indonesia hanya bisa menjadi runner-up, dikalahkan China. Meskipun penyelenggaraannya nanti di Guangzhou, China, tapi saya harap bisa menang. Ada beberapa lawan berat, sih, terutama China, Korea, Malaysia, dan Denmark. Ketiga, tentunya Kejuaraan Dunia(kalo gak salah di India) bulan Agustus. Semoga Kido/Hendra dan Nova/Lilyana bisa mempertahankan gelar juara, dan di nomor lain juga menang.